Kamis, 07 Januari 2016

Menantimu

070116
bunda tunggu kehadiranmu sayang
090116
sayang kenapa kamu tak datang juga... bunda rindu... 1 tahun bunda menanti. Apakah kami belum pantas untuk bersamamu 😢😢

aku setelah 27 tahun 4 bulan

Kini aku telah mempunyai keluarga baru. Keluarga kecil yang aku buat pada tanggal 21 Februari 2015. Aku memutuskan untuk memilih laki laki bernama Wawan Ruhiyat untuk ku jadikan imam dalam hidupku. Setelah menikah suamiku mengajak ku tinggal di kota Bandung... di sana aku tinggal di rumah Almarhum kedua orang tua suamiku. Akupun memutuskan untuk resign dari pekerjaanku sebagai seorang Bidan dengan harapan saya mendapat pekerjaan baru di tempat tinggal yang baru. Namun kenyataannya pekerjaan itu belum menjadi rizki ku. Aku mengandalkan gaji suami saya yang bekerja sebagai seorang chef di sebuah resto. Tak lama sejak kepindahanku ke kota Bandung, aku merasa kurang nyaman karena di rumah yang tak terlalu besar itu aku harus tinggal bersama adik iparku yang terlebih dahulu berkeluarga, saya merasa kurang nyaman karena sikap adik iparku yang menurut saya kurang asyik dan kaku saya melihat sikapnya merasa lebih dewasa dari kakaknya. Aku sempat mengeluh ingin pindah kepada suamiku. Namun suamiku tidak mengabulkan keinginanku karena dirasa gajinya belum cukup untuk mengontrak sebuah rumah. Akupun mencoba bersabar meski terkadang aku menangis. Perasaan tidak betah semakin merasuki diri ini ketika suamiku memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya. Akupun mencoba mengendalikan perasaan itu.
Karena harus menyambung hidup kami mencoba merintis sebuah usaha kecil kecilan di bidang kuliner. Dengan berbekalkan modal dari orang tuaku sebesar 20 juta kamipun menyewa tempat milik kenalan suamiku. Setelah sedikit di renovasi kami berencana untuk segera membuka sebuah kaffe. Namun karena banyaknya negosiasi dengan pemilik tempat kaffe kami belum segera di buka sesuai waktu yang kami rencanakan. 
Kembali lagi ke cerita dalam rumah. Perasaan kagok saya terhadap adik iparku belum hilang apalagi setelah suami ku gak kerja lagi dan pembukaan kaffe mangkir dari rencana. Berbagai komentar yang intinya menasehati terlontar dari mulut adik iparku. Mungkin karena sugestiku yang gak nyaman sama dia, nasehatnyapun saya anggap menggurui kepada yg lebih tua. Mungkin adik iparku merasakan kalo aku gak nyaman sehingga adik iparku membawa keluarganya untuk keluar dari rumah itu dan menontrak sebuah rumah. Saya merasa sedih dan kehilangan karena rumah terasa sepi dan sebenarnya saya tahu dia itu baik namun karena sikapnya yang kaku aja jadinya aku merasa kurang nyaman. Yah mungkin ini yang terbaik